Lesehan Gudeg Yogyakarta

Ambil dan bertolak jalan makanan? Itu biasa. Nyaris tiap-tiap bakul makanan jalanan & pedagang sediakan kantong plastik atau wadah styrofoam buat mengakomodasi membawa aways. Bagi mereka yg enggak cuma ambil serta bertolak, sekian banyak bahkan sediakan bangku plastik atau bangku-bangku kayu sederhana buat duduk & makan. Saat Ini, macam mana bersama lesehan makanan jalanan? Faktor ini tak tak ada, namun tetap nggak demikian umum di sini.

Bila Kamu masihlah baru buat Indonesia, lesehan cuma berarti duduk di lantai & makan, rata rata tidak dengan pertolongan cutleries, tapi memakai jari. Lesehan ini rata rata terkait bersama Yogyakarta, namun dapat juga ditemukan di sekian banyak restoran Indonesia di mana-mana. Sebab argumen kesehatan, lesehan nyaris tdk ditemukan di jalan-jalan, kecuali Kamu berada di Yogyakarta. Kita mesti menghitung berkat-berkat kita, sebab tidak sedikit orang kita dipaksa (bukan oleh pilihan) buat makan lesehan di jalan-jalan.

Pengaturan kalem & bersahaja lesehan memang lah membuat nuansa yg agak intim, terutama di kalangan sekelompok orang. Buat sesaat di sana, kita dapat melepas ‘topeng’ kami & memang menikmati makanan tidak dengan rasa tdk aman bagi siapa juga dapat mencela atau meneliti kita.

Sy baru saja menyaksikan kios lesehan berusia satu dekade di dekatnya, sesudah tinggal di daerah Kota hidupku! Nyatanya niche mencolok cuma muncul di tengah malam hri, yg aku memang sudah berlalu demikian sering dalam perjalanan ke Harmoni. Kita cuma sanggup menebak batas kios itu sejauh tikar jerami diletakkan di jalan beton buat pejalan kaki di luar toko-toko ditutup.

Makanan yg disajikan di sini yakni bersahaja, tapi lezat & harga terjangkau (walaupun di ujung mahal utk standar jalan makanan). Kios ini bernama Gudeg, namun mereka melayani ongkos yang lain Jawa pula sama seperti Soto & Sop Buntut. Seluruh item kepada menu tdk lebih dari 25ribu rupiah.

Waktu aq duduk di sana, menikmati piring hangat Nasi Gudeg, aq menonton mobil pembesaran periode dulu, driver & penumpang menyadari lingkungan mereka. Biar goreng-on-the Empal Daging (daging sapi asap) menciptakan puncak pesta sederhana gue. Utk sekali, gw mengerti macam mana rasanya menonton ke atas (dengan cara harfiah) ke urban yg sibuk bergegas jalan lewat dulu lintas, berupaya utk menguber ketinggalan dgn kehidupan mereka sibuk. Sebagaimana yg gw menghitung berkat gue, aku berterima kasih atas makanan hangat lezat sebelum gue & lapisan compang-camping jerami tikar dibawah bantal yang merupakan gue.